ART BALI 2018 – Beyond the Myths

ART BALI 2018 – Beyond the Myths

Mitos seperti diungkapkan oleh Roland Barthes (Myth Today: 1957), adalah suatu sistem komunikasi , suatu narasi, wacana (speech). Dibangun dengan meta-bahasa, yang berfungsi untuk “menaturalisasi”  sesuatu nilai yang dibentuknya. Mendistorsi suatu proses pemaknaan. Semua , menurutnya berpotensi menjadi mitos. Bagi Barthes, mitos bukan hanya bentukan dari cerita – cerita masa lampau, dongeng, dan lainnya, tetapi juga dalam wujudnya yang lebih kekinian; dunia popular, seperti sampul majalah, poster iklan, papan reklame, film dan lain sebagainya. Mitos ibarat hantu bertopeng, yang terus membuntuti sejarah manusia modern.

Pulau Bali adalah suatu lautan tanda-tanda dengan berbagai makna yang telah menjadi konstruksi. Pada sejarahnya , seni-budaya di Bali telah memberikan inspirasi banyak pendatang. Miguel Covarrubias adalah salah satu penulis yang mempopulerkan Bali,lewat buku terbitan 1937 “Island of Bali”. Sehingga lewat bukunya tersebut banyak orang- orang terkenal dari Amerika maupun Eropa berdatangan ke Bali. Dan kemudian sejak era-kolonial, dengan munculnya kumpulan seniman Pitamaha pada awal abad 20, yang digagas oleh seniman Eropa seperti Rudolf Bonnet dan Walter Spies.

Pitamaha menjadi sebuah kelompok seniman yang membawa bentuk kesenian Bali lebih kompromis atau bisa diterima oleh pubik internasional atau menjadi bentuk seni modern dengan menggabungkan semangat seni tradisional Bali dan Eropa. Bagi kebudayaan modern Indonesia, bentuk kesenian tersebut menjadi bagian sejarah seni modern Indonesia yang mempunyai dimensi lokal-global.

Kedatangan kelompok seniman dari Eropa telah merubah peta praktek seni lukis dan memberikan makna baru praktek seni lukis di Bali seperti halnya Moii Indie. Walaupun kemudian muncul gejala dimana ada seni lukis dan patung yang digemari oleh para Turis asing.

 

ART BALI
Melihat bali melalui periskop, Bali sebagai “Island of Bali” atau “Pulau Dewata” mendorong kita untuk menyadari bahwa mitologi yang berada dalam masyarakatnya telah berkembang dan turut serta didalam dari praktik seninya. Mitologi dalam kultur religi, khususnya Hindu telah memberikan dampak yang besar dalam tipografi seni yang berkembang.

Tema-tema ini kerap muncul sebagai kecenderungan yang membentuk Bahasa-bahasa mitologi lainnya. Dimana mitologi mengajarnya pemikiran kritis, kebaikan dan melahirkan nilai kemanusiaan yang modern. Mitologi yang sekaligus membungkus Bali dalam perwajahan yang sangat khusus dan istimewa. Mitologi adalah sebuah bagian upaya mempertimbangkan dan membongkar nilai-nilai dalam konteks peristiwa Art Bali 2018 sebagai kerangka pemikiran. Apakah yang akan kita temukan dibalik proses pembongkaran tanda-tanda waktu dan symbol ini? Apakah kita dapat melampaui mitologi sejarah ini untuk menemukan cakrawala seni yang unik? Pertanyaan –pertanyaan ini akan mengawal kerja Art Bali 2018 bersama seniman dan pegiat kreatif lainnya untuk mewujudkan pengalaman seni budaya ini.

 

 

Pameran Art Bali akan memberikan gambaran perkembangan mutakhir seni rupa kontemporer, baik di Bali, Indonesia maupun secara internasional. Karya-karya ini merepresentasikan bagaimana perubahan didalam praktek seni rupa terkait dengan perubahan-perubahan sosial-politik dan ekonomi , baik di Indonesia maupun dunia. Memberikan makna baru dari cara pandang dunia yang baru, yang melampaui tanda-tanda, simbol yang termitoskan secara sengaja maupun tidak.

 

Tim Kurator ART BALI
Rifky Effendy dan Ignatia Nilu

 

 

Go Back