Dua Lantai Rumah Untuk Soni Irawan dan Toni Volunteero

Dua Lantai Rumah Untuk Soni Irawan dan Toni Volunteero

“It took me four years to paint like Raphael, but a life time to paint like a child”
Picasso – Paint Like A Child,1881-1973

 

Adalah nukilan populer yang barangkali telah dikutip beberapa kali. Sebuah frase liris yang saya pinjam untuk membuka cakrawala pandang dalam melihat apa yang dikerjakan oleh dua seniman yang tengah hadir di ruang pajang dan peristiwa pameran ini. Keduanya berada di satu Duplex, memilih lantai pajangnya masing-masing dan mengeksposisi hal-hal yang berbeda. Saling terkait sekaligus juga tidak. Keduanya berekspresi bebas disini. Tidak sedang terikat dalam konteks, tema, gagasan tertentu yang dibingkai untuk menyatakan satu atau dua hal tertentu. Karya-karya ini adalah pilihan yang mereka sukai. Semuanya adalah karya lukis, dipresentasikan diatas kanvas dan dipajang ditengah dinding.

Setiap bingkai kanvas memiliki narasi liris yang terpetakan secara sekuensial. Ada persoalan keseharian di ruang tinggal, informasi media, politik sosial, humor dan tentu saja soal alam fantasi. Apabila fantasi dipahami sebagai alam pikiran manusia diawal kelahirannya menurut cara pandang dunia psikologi, yang dinyatakan bahwa ini berasal dari kebutuhan genetik dan terarah oleh naluri, kemudian fantasi akan  muncul dalam bentuk simbolik, proses bermain-main dan melahirkannya dalam amalgam ; dunia imajinasinya sendiri. Dari sana realitas internal dan eksternal dihadirkan, dimodifikasi oleh perasaan, emosi dan kemudian diproyeksikan melalui alam benda yang nyata maupun imajiner.

 

 

Rasanya itulah yang saya temui dalam proses melihat karya-karya mereka.  Soni Irawan adalah generasi 90-an yang bermain-main dengan kekuatan garis untuk membahasakan sebuah ekspresi seni ekspresionis. Ia memiliki berbagai cara untuk melakukan seninya, melalui seni jalanan, melalui medium lukis, melalui karya grafisnya dan juga melalui musiknya dengan beberapa band yang aktif berpentas di Indonesia dan Yogyakarta. Karya soni tidak suntuk membicarakan hal-hal yang besar melainkan membicarakan hal-hal yang keseharian, hal-hal sederhana yang bagi kebanyakan kerap dengan mudah dilalui dan terlupakan. Imajinasi, mimpi, percakapan, informasi dan personifikasi manusia yang tidak merujuk pada identitas atau kode-kode tertentu.

Bersamaan dengan proses itulah, perjumpaan dengan Yustoni Voluntero, kakak angkatan dari almamater yang sama hadir dan dihadirkan dalam perbicangan. Toni adalah salah satu pendiri dari kolektif progresif seni yang aktif di Tahun 90, Taring Padi. Toni mungkin lebih banyak bicara hal-hal besar, wacana politis dan ekspresi perlawanan pada masa itu. Karya-karyanya berpihak pada wawasan kerakyatan dan visual-visual yang simbolik. Namun Toni barangkali telah bertransformasi dalam beberapa fase tertentu dalam  proses berkaryanya. Hingga akhirnya, di masa proses pameran ini, Ia menyodorkan karya terbarunya yang bicara ikhwal fantasinya akan dunia yang lebih paralel melalui rantai cerita yang tidak kalah kompleksnya.

Untuk pameran kali ini Soni akan membawa karya lukisnya ke ruang pamer. Bukan instalasinya, bukan karya grafisnya atau karya dari objek yang cukup indentik dengannya, Gitar.

Ia akan menampilkan delapan karya lukisnya yang mungkin sudah lama Ia kerjakan semenjak ia gemar menggambar Zorro. Figur fiksi yang menurutnya flamboyan dengan segala maskulinitasnya yang heroik adalah sosok yang asik untuk digambarkannya. Baginya, Zorro barangkali menyebalkan karena ia tetaplah pencuri tapi melakukannya dengan pride. Dengan sebuah dignity. Untuk membantu yang lemah, Ia mencuri dan memberikannya kepada yang membutuhkan. Ia memiliki sisi jahat dan kebaikan yang beriringan dan sama-sama kuatnya. Ia pasti nakal tapi dia tahu benar apa yang dilakukannya.

Zoro disini dibawakannya dengan kelakar komposisi yang bercita rasa lokal. Zoro mungkin punya koloni yang berasal dari sini. Yang memahami kearifan lokal dan memegang pakem budaya lokal. Baginya Indonesia membutuhkan lebih banyak Zoro.

Tapi disana saya mendapati rasa dan semangat yang serupa degan karya-karya lamanya seperti Sleeping Teddy bear dari tahun 2011. Dimana pada karya itu Ia mencoba mengamplifikasi perasaannya ditengah kesimpang siuran pemberitaan media dan dominasi rezim di segala lapisan sosial. Para penguasa mengontrol pemberitaan di media, mengubah, mendistorsi dan menciptakan sejarah baru dari kebenaran yang dikaburkan. Ada sebuah tindakan seni yang muncul dari kondisi sosial yang terjadi. Dari sana saya menduga, sesungguhnya Soni cukup kritis dan melek dengan perubahan sosial dan iritasi politis yang membosankan baginya.

Disisi lain jika kita bicara diwilayah kerja artistik dan pengkaryaan, sudah jelas bahwa kelebihan dan kekuatan Soni ada pada garis. Ia menciptakan garis-garis tegas yang membentuk figur, komposisi yang naratif dengan intensitas repetisi yang tinggi. Komposisinya cenderung rapat dan jarang menampilkan penokohan tunggal disana. Ia seperti memaparkan skena kehidupan tokoh satu dengan tokoh lainnya. Pada karyanya “Head in My Head #1”  saya melihat satu bentuk kepala sebagai obyek utama disana dengan konten kepala-kepala repetitif. Saya membahasakan kepala-kepala di dalam kepala. Karya ini mungkin kelanjutan dari serial personifikasi yang saya sebut diatas. Ada dua karya disini yang saya lihat sebagai kepanjangan dari soal-soal identitas dan penokohan manusia. Meskipun melalui konfirmasi langsung dari Soni, kesadarannya sangat sederhana. Dua kanvas ini berasal dari satu image figur. Ia memotongnya dan memisahkannya dalam dua bagian tubuh. Dari sana ia kemudian mengisi potongan tubuh itu dengan tubuh-tubuh yang lain. Seperti rantai relasi persoal dengan sosial dan komunal yang mengelilinginya. Individu yang terikat dengan komunal besar di luar dirinya.

Di karya yang lain ia melakukan tindakan yang lebih mengagetkan. Ia menggunting karyanya sendiri. Energi yang sulit untuk saya pahami mula-mula. Tindakan merusak karya mungkin bukan hal yang baru. Beberapa seniman melakukan hal yang serupa. Ia merusak sesuatu demi menemukan bentuk yang baru. Ia menghilangkan sesuatu dan memunculkan bentuk baru dari estetika lamanya. Serial ini digarap dalam nuansa warna yang sangat radiant. Kuning, terang, bersinar, beberapa sosok burung menghinggap disana dan sebuah stensil bertuliskan merk monosodium glutamat tersemat disana “A Tasty Life #1” adalah amplifikasi dari kredo hidup ini membutuhkan bumbu-bumbu agar tidak hambar. Seperti halnya informasi melalui pemberitaan yang kerap dibumbui friksi-friksi pelengkap agar lebih seru, atau pada realitas di kehidupan sehari-hari, pernyataan bagi seni untuk kehidupan.

Di empat karya yang lain, soni asik menggambarkan zoro dengan beberapa pose dan situasi yang beragam. Berbeda dengan serial zoro sebelumnya, banyak aksen zoro yang dilengkapi dengan tindakan spontan seperti ia memperlakukan gambar diatas tembok.

Di lantai yang berbeda, hadir karya Toni Volunteero. Mungkin seolah menjadi logis bagi kebanyakan untuk mengafirmasi kehadiran mereka berdua sebagai sebuah kesinergisan. Keduanya sama-sama berkarya melalui tubuh rupa dan musik. Menyukai komunikasi yang performatif baik secara garis maupun secara musik. Dan yang penting, mereka memiliki relasi dan konektivitas persahabatan sehingga menggelar pameran berdua menjadi sangat mungkin untuk dilakukan .

Keduanya memiliki kedekatan secara gaya, bedanya mungkin soni mendekati kanvas dengan modal akrilik. Ia menyukai sapuan tipis, lugas dan bersih. Toni memilih cat minyak sebagai mediumnya. Toni bercerita bahwa kepuasan dan pencapaiannya dalam melukis ada apa kesan-kesan yang bisa ditemukan diatas gambar dan kanvas. Jadi sebenarnya ini tidak melulu soal komposisi gambar yang kemudian berada didalam kanvas. Lagipula, meneliti alur gambar Toni yang ada di gambarnya membawa kita pada rangkuman cerita yang ganjil dan tidak linier. Dan barangkali memang begitu caranya berlogika dengan bahasa rupa.

Apabila ditarik mundur ke belakang, karya-karya lukis toni sebelumnya sudah lekat dengan kesan intuitif, spontan dan mentah (raw). Ia jarang menyuguhkan komposisi manis. Sesuatu yang sederhana, polos, primitif dan mentah mungkin adalah impresi kuat yang saya jemput dalam pengalaman saya melihat karya Toni.

Namun bagi saya, lima tahun belakangan yang dikerjakan Toni adalah sesuatu yang mengejutkan. Sebagai figur yang lekat dengan aktivisme dan wilayah logis, ia kerap menyuguhkan bentuk-bentuk yang representasional. Soal-soal yang menjadi perbincangan di lini arus utama. Ring diskusi dan panggung aktivisme adalah makanan sehari-harinya, begitu kira-kira potret Toni yang mendekam di memori saya. Tetapi bukan itu saya jumpai di kanvasnya hari ini. Ia melukiskan hal-hal yang tidak lain. Toni melukiskan fantasi, melukiskan imajinasi dan menurutnya ini adalah kesempatan yang sedang ia coba untuk melepaskan diri dari segala bayang-bayang logika realisme sosial yang selama ini ia pegang teguh. Baginya realisme itu juga ada dan berdiam pada khayalan fiksi. Setiap fantasi orang bertumbuh dalam referensi pengetahuan dan intelektulitas masing-masing. Tidak bisa dikonstruksi dan akan bertumbuh dengan cara masing-masing.

Dari sana maka Ia sadar bahwa ia tidak perlu membingkai satu pernyataan khusus dari lukisan-lukisannya. Meskipun tentu saja ketika memori diinvestigasi, maka momen-momen dimana simbol, bentuk dan komposisi itu dimasukan masih sangat mungkin untuk dibaca melalui catatan khusus. Beberapa ikon-ikon muncul di karyanya mulai dari binantang, Ufo, roket, manusia dan tentu saja untaian frase-frase yang sudah menjadi ciri khasnya.

Cerita-cerita tidak disematkan dengan konstruksi yang sedemikian jelas. Cenderung parsial dan sporadis. Tapi jelas semua berawal dari ketertarikan akan percakapan yang mempengaruhi pengalamannya di saat itu. Sebagai contoh ketika ia melakukan juktaposisi terhadap ikon UFO dalam karya “Go To Other Planet” dengan kehadiran bianatang-binatang sebagai superhero. Keputusannya dalam memasukan dua ikon ini sangat dipengaruhi oleh perbicangan dunia alien yang tua dan mengunjungi bumi. Dari sana Ia menciptakan peradaian melalui visual akan bentuk-bentuk alien yang medaratkan dirinya di bumi ini.

Demikian halnya di keenam karya lainnya, sajian komposisi diramu secara spontan, bisa jadi aksen dan sifatnya lebih intuitif. Nuansa humanis di wilayah kesehariannya di pagi harinya yang diikat dalam parodi-parodi tekstual, sesuatu yang memang jelas adalah kelebihannya. Dengan ini, karya -karya Toni melintas dan merujuk pada kebaruan idiom visual dari bentuk-bentuk yang pernah dikerjakannya terdahulu dan keseluruh pernyataan ini hadir dalam kepaduan di komunikasi dua arah dua seniman ini di bawah satu atap, Nathan Art Space dalam sebuah peristiwa Duplex. Selamat untuk kedua seniman dan selamat menikmati pameran ini untuk teman-teman yang sudah hadir.

 

Yogyakarta, Desember 2016
Ignatia Nilu

 

 

 

 

 

 

Go Back