Membicarakan Sensor Kehadiran Perempuan dan Kerja Rupa Ari Bayuaji Di Yogyakarta

Membicarakan Sensor Kehadiran Perempuan dan Kerja Rupa Ari Bayuaji Di Yogyakarta

Program Residensi sebagai sebuah platform inkubasi kreatif dalam kekaryaan seniman, kurator, peneliti telah menjadi satu bentuk ekspansi dari upaya seniman khususnya untuk keluar dari proses berkarya di studionya. Melalui pengkondisian itulah seniman melakukan respon diri akan situasi yang baru, beradaptasi, melakukan pembacaan dan memasuki proses produksi baik secara intelektual maupun secara artistik.

Melalui platform ini pula, Redbase Foundation yang berbasis di Yogyakarta mengundang Ari Bayuaji, seniman berkebangsaan Indonesia yang saat ini berbasis di Montreal, Canada. Melalui residensi yang terlaksana selama dua bulan sejak September lalu tersebut, Ia kemudian berproses di studio residensinya dalam mengerjakan karya instalasi, patung dan gambar.

Ari Bayuaji adalah seniman kelahiran Mojokerto, Jawa Timur kemudian bekerja di studionya di Bali hingga tahun 2000 hingga akhirnya hijrah secara permanen di Canada hingga saat ini. Sebagai seniman yang telah mengalami transisi geografis ini, tentunya perpindahan ruang memberi pengaruh terhadap pola pemikiran hingga pembacaaan akan perbedaan pola sosial. Sebagai seniman diaspora yang menziarahi kembali negaranya , dengan menyinggahi Jogja adalah pengalaman yang baru yang membawanya menjemput pameran tunggalnya Cen.sor.

Ia bercerita bahwa setibanya di Indonesia, ia banyak bernostalgia kembali atas kenangannya pada mendiang ibundanya Sutianingrah. Ibundanya seorang potret perempuan modern yang ia kenal sebagai figur perempuan yang mengambil pilihan profesionalnya sebagai instruktur senam dan membangun sebuah pusat kebugaran. Dari ingatannya itulah ia melakukan perjalanan kembali di dua wilayah, yang pertama adalah wilayah isoteris keluarganya dengan membedah arsip keluarga yang dimilikinya dan juga melakukan pengamatan dengan kejadian yang dijumpainya disini (Jawa timur dan Jogja) selama perjalanan di residensinya ini.

Tanpa menafikan kejadian yang serba kebetulan dan beruntun, ia telah menjumpai beberapa kejadian yang membuatnya bertemu dengan perempuan-perempuan yang berbeda. Skena nya bisa jadi sangat beragam, dengan tempat-tempat yang berbeda pula. Di pasar, di lokasi pariwisata, di media masa sebagai subyek pemberitaan dan juga wilayah pribadinya, — memoir ibundanya. Baginya perjumpaannya dengan para perempuan ini telah memberi definisi atas pentingnya kehadiran dan citraan peran perempuan pada ruang sosial kita. Perempuan adalah educator pertama dan penentu kualitas sebuah generasi, karena darinya kemudian anak-anak dilahirkan dari Rahim ketubuhan dan Rahim pemahaman. Dan yang kedua, darinya perempuan menjadi pusat kekuatan dalam sosial yang perannya bisa saja berada pada wilayah perekonomian keluarga, menertibkan lalu lintas kehidupan juga, ia menjadi agen manajerial dalam unit keluarga hingga masyarakat yang lebih besar lagi.

 

 

Pada saat yang bersamaan pula, terjadilah kondisi yang berbeda. Ia telah menjumpai sejumlah penyaringan/sensorship terhadap sejumlah publisitas aktivitas perempuan. Penyensoran inipun telah lama ia dengar ketika Ia berada di Montreal. Seperti halnya malam penobatan Miss Universe yang menyensor sejumlah tubuh dari kandidat asal Indonesia. Ini baru satu aspek kecil dari sejumlah sensoring yang ada, terutama pada peran-peran wanita, khususnya di Indonesia. Tentang sensor ini, Ari menegaskan, “Aku nggak tau sebenarnya sensor itu untuk melindungi siapa. Melindungi laki-laki agar tidak tergoda, melindungi harga diri perempuan, melindungi ‘budaya’ Indonesia, atau apa?”

Sensor ini berjalan tidak hanya yang kasat mata seperti menghapus belahan dada di televise dengan piksel, tapi melalui penyempitan sudut pandang, pembodohan public dan perangkap pencitraan apalagi di era riuh-rendah media dan politik saat ini. Mungkin juga, seperti di banyak karya Ari yang lain, ini sebuah usaha untuk mengajak merdeka dari sensor dan perangkap-perangkap tersebut. Merdeka sebagai individu, meraih kekuatan dan kebebasannya masing-masing bersama-sama — sensor secara struktural terhadap kekuatan perempuan

Memasuki ruang pajang, Redbase Foundation ini, kita akan diajak untuk memasuki ruang eksposisi karya yang dibagi menjadi tiga bagian. Melalui pintu masuk utama, kita akan menjumpai sejumlah gambar-gambar yang dikumpulkan Ari dari berbagai sumber, mulai dari media televise, media cetak hingga sumber-sumber sekunder dengan image perempuan sebagai subyek utama tindak sensor ini. Di sisi sebaliknya hadir tiga karya gambar yang menampilakan figur perempuan dengan wajah yang berbeda. Ia menggunakan beberapa material yang cenderung menghasilkan impresi lunak, lembut dan kanak-kanak. Ia cenderung ekspresif dalam menggambarkan figur-figur disana. Di ruang yang sama kita juga dapat melihat teks pengantar yang dituliskan oleh Farah Wardani yang menuliskan alur pertemuan Ari dengan persoalan sensor kuasa perempuan yang terjadi.

 

 

Pada ruang yang berbeda, kita disajikan beberapa karya painting dengan perempuan berhijab sebagai obyek utamanya. Kemudian beberapa kolase yang dikomposisikannya dalam serial “Beauty is on your head” dan dilanjutkan dengan instalasi benda temuan berupa shampo yang menampilkan figur perempuan sebagai subyek advetorialnya. Di tengah ruang ia menginstal instalasi dengan beberapa material berbeda dengan mengadirkan satu benda utama berupa batu penyangga tiang utama yang dikenal sebagai umpak. Pada karya ini, Ari mencoba merepresentasi poisi perempuan sebagai pemegang peran penting di keluarga dan masyarakat, seperti halnya umpak sebagai penyangga tiang utama rumah jawa.

Pada ruang pajang utama, terdapat 17 karya dengan menhadirkan material dan medium yang berbeda. Beberapa Patung batu yang ditampilkan merupakan ungkapan satir secara visual terhadap sensorship yang terjadi. Nampak jelas upaya Ari pada presentasi karyanya dengan tindakan-tindakan “merusak” komposisi ideal figur patungnya dengan “mencongkel” wajah patung tersebut. Beberapa instalasi yang hadir adalah hasil komposisi benda temuannya dari beberapa koleksi dan perjalanannya di beberapa kota. Elemen yang kuat Nampak di beberapa diorama, adalah teks-teks yang tersemat, membungkus dinding-dinding instalasi. Teks, tulisan tangan tersebut adalah arsip ibundanya. Ari bercerita, kumpulan jurnal ibundanya ini telah dikoleksinya sebelum pameran ini. Dan menurutnya, ini adalah saat yang tepat untuk menghadirkannya bersama dengan pernyataan-pernyataan akan posisi perempuan hari ini. Tulisan ini banyak bertutur tentang gerakan-gerakan senam dan aerobic. Catatan kerja ibunya selama mengelola pusat kebugaran. Jurnal ini merangkum bahasa yang sangat spesifik sekaligus teknis yang menunjukan betapa ibunya menguasai profesinya. Melaluinya kita dapat melihat sebuah potret perempuan modern, perempuan jawa yang memilih profesinya menjadi seorang instruktur yang akhirnya memutuskan mengenakan hijab sepulangnya dari ibadah haji. Sebuah tindakan sadar yang diambil tanpa mengganggu aktivitasnya yang dicitrakan dengan atribut yang sporty, minim dan identic dengan eksposisi tubuh. Ini adalah pernyataan yang lain. Disana tampak sebuah instalasi dua figur berhadapan dengan wajah terpotong. Karya ini merupakan penghormatan untuk karya Mella Jaarsma karenanya ia kemudian memberi tajuk “Aku Makan Kamu, After Mella Jaarsma”.

Dalam proses penciptaan karyanyanya, Ari mengumpulkan perangko, buku-buku dan majalah lama yang menampilkan gambar dari perempuan-perempuan Indonesia. Ari juga menambahkan beberapa catatan yang ditulis oleh mendiang ibunya yang berprofesi sebagai instruktur aerobik selama masa hidup dewasanya. Catatan-catatan itu berisi tentang pola dan instruksi dalam senam aerobik. Ia meyakini bahwa catatan-catatan lama dan gambar-gambar itu merupakan bagian penting dari arsip sejarah perkembangan perempuan Indonesia di dalam budaya kita. Menurutnya, kita tinggal di dalam lingkungan masyarakat yang masih menilai perempuan dari bagaimana mereka terlihat, dan dari apa yang mereka pakai.

Pada ruang ini tampak beberapa karya sebagai hasil olahan dan dekomposisi dari benda temuan. Ari menegaskan bahwa potensi ini juga harus disadari oleh para seniman dan art student di kota ini bahwa material yang tersedia di jawa, Yogyakarta sangat kaya. Banyak benda yang mudah kita temui yang sarat dengan estetika yang telah mampu mewakili komunikasi dari karyanya. Obyek, besi, batu, terpal, tali, besi, kawat merupakan benda-benda yang dikumpulkan dari tempat yang berbeda dengan sejarah dan narasi berbeda yang dibawa tiap-tiap benda tersebut. Baginya ini sekaligus tantangan untuk memperlakukan setiap benda ini agar dapat bertutur dengan indah. Ari menegaskan bahwa keindahan tetaplah aspek yang penting dalam sebuah karya.

Pada karya ”Ken Dedes, After Jim Supangkat” sebuah figur perempuan yang direkam dalam patung batu ini dilukisnya dengan pensil warna. Sebuah tindakan yang barangkali terkesan ceroboh ini, rupanya dilakukannya sebagai upaya untuk memberi keseimbangan atas kekuatan material batu yang identic dengan sesuatu yang kuat, kokoh, solid yang dipadukannya dengan pensil warna, sebuah medium yang sederhana, primitive dan sangat dinamis. Gayanyanya juga sangat ekspresif. Di patung yang berbeda, ia juga melakukan respon visual dengan material yang lain seperti akrilik. Ari menyatakan bahwa patung ini adalah kanvas lain yang ia temukan.

Beberapa serial gambar juga dihadirkan disini, salah satunya adalah “La Jaconde” sebuah dekomposisi dari karya Da Vinci Atas potret monalisa. Ia mengkomposisi ulang poretnya dengan temuan lain seperti perangko lama, baginya perangko adalah benda yang mewakili sifat feminine karena sifat pengkoleksiannya yang didominasi oleh kaum perempuan.

Melalui rangkaian eksposisi dan pernyataan visual yang dituntaskannya di yang periode  residensinya ini, Nampak jelas bahwa upayanya dalam memberi car abaca baru akan kehadiran serta Peran perempuan di ruang sosial kita. Karyanya sekaligus mengkonfirmasi konsepsi ambigu yang bertumbuh kokoh atas ketubuhan dan atribut.  Hal lain yang digarapnya adalah kekuatan material dan kecakapan olah tangan dalam mengeksekusi ide. Sehingga benda-benda dikumpulkan, dipersatukan dan dilahirkan kembali dalam roh dan tubuh yang baru. Kemerdekaan dalam berkarya adalah sebuah kesadaran yang dilakukannya dalam meretas segala kemungkinan yang ada mulai dari menyusun konsep, mengembangkan gagasan hingga eksekusi secara artistic.

Hingga olehnya Cen.sor menjadi kepaduan arsip artistic dari fenomena yang berada di sekeliling kita. Melalui setiap karya yang hadir, sebuah gambaran yang sering terlewatkan menjadi nyata dan pantas untuk mendapati perhatian untuk disikapi secara bersama.

 

Oleh: Ignatia Nilu

 

 

 

 

Go Back