Narasi, Percakapan dan Perjalan

Narasi, Percakapan dan Perjalan

Sebagai salah satu kelompok seni yang memberi petanda yang penting dalam skena seni rupa di Indonesia, Sanggar Dewata Indonesia telah menjadi sebuah ruang yang dibangun atas kebutuhan penjelajahan artistik, estetik, budaya, tradisi, manajemen diri, untuk mempersiapkan setiap anggotanya dalam menghadapi medan sosial di masyarakat luas, baik melalui eksistensi karya maupun kediriannya masing-masing. Karenanya kesadaran mengenai proses panjang, yang tidak hanya cukup bersama dengan “I” yang telah berlalu, namun juga pentingya “U” (you) untuk digandeng dan bercakap dalam proses yang ada di hari ini dan kelak menjadi entitas “Us”, sudah tersusun.

 

 

Pameran ini, yang diikuti oleh 15 seniman dari 2 generasi, menyatakan satu sikap tersediri dalam khasanah seni visual di Indonesia. Melalui perangkat estetisnya masing-masing, mereka membedah, mereposisi, mendeskonstruk- si ulang nilai, mendistorsi visual tradisi, memberi sikap atas ke-Bali-annya. Sebuah ruang dialog telah dibuka bagi “U” (you) yang lebih luas lagi. Tentu hal ini tidak lepas dari identitas diri mereka sebagai seorang bali yang tumbuh besar dengan ikatan tradisi yang kuat dan spiritualitas kesenian yang tinggi, yang mampu menghantar mereka pada satu kesadaran-kesadaran mengenai soal-soal yang sering terlewatkan. Tri Hita Karana, sebagai sebuah prinsip paling esensial dalam diri mereka sebagai manusia, memberi tuntunan mengenai cara mereka bersikap serta bertindak dalam ekosistem makro, alam, manusia dan supremasi keilahian. Selain itu juga mempengaruhi mereka, sebagai seniman, yang memiliki yatna di dalam dan melalui karya-karyanya. Melalui pameran ini kami ingin memberi sebuah pernyataan dan penanda bahwa proses kesenian yang dijalani oleh Sanggar Dewata Indonesia bukan lagi ruang isoteris semata, melainkan juga mampu berfungsi sebagai ruang dialog terbuka bagi dan bersama khalayak umum. Tradisi dan budaya tidak akan berhenti dan mati. Namun berkembang dan hidup seiring dengan peradaban dan zaman. Dan yang terakhir, pameran ini adalah ruang pernyataan bahwa proses kolektif akan terus ada, berproses dan melakukan perjalanan.

Selamat menikmati proses dan percakapan di ruang ini.

 

Ignatia Nilu

 

 

Go Back