Pilgrimage to Earth

Pilgrimage to Earth

Melihat hasil, apa yang dikerjakan dan dian secara kediriannya, setidaknya saya melihat terdapat beberapa aspek. Pertama, saya melihat bahwa dian tidak hanya membuat atau mencoba mewujudkan apa yang ia imajikan kedalam sebuah bentuk dan konteks. Tapi disini, cara ia memperlakukan material. Proses, kerja dan perilaku. Lantas sebuah pertanyaan lainnya adalah bagaimana cara membaca apa yang dia lakukan, dan dia membuat apa? Melalui tanah, sesungguhnya saya telah melihat bahwa ia tidak sedang berupaya untuk mengoyak tanah menjadi sebuah bentuk yang mewakili keinginannya. Justru, ia membawa ini semua keruang pamer untuk mempertontonkan percakapan-percakapannya dengan tanah. Ia mengenali tanah dalam beberapa periode dalam hidupnya. Masa kanak-kanaknya seperti anak kecil lainnya yang bermain-main dengan tanah, menciptakan benda yang membuatnya asik dan puas. Di masa dewasanya, ia menjumpai tanah model di meja kerja ayahnya. Tanah telah menjadi perantara yang jelas merujuknya pada sebuah proses penciptaan baginya sebagai seniman.

Tapi yang jelas terlihat disini, bahwa hal dan bentuk yang ia ciptakan tidaklah merujuk pada kerja disiplin seni yang tertentu. Meski jelas terlihat ia memiliki kemampuan kekriyaan yang baik, ia tidak sedang menciptakan craft atau benda yang dihadirkan dalam rangka menghias sebuah bidang atau ruang. Ia memilih menggunakan metode pengontrolan tanah yang primitive dan sederhana, dengan intensitas yang tinggi dalam rangka menciptakan sebuah kisah. Ia menjumpai ekstase dengan permainan detail, repetisi dan materialism itu sendiri. Dan setidaknya itulah yang saya lihat melampaui yang terpasang di ruang ini. Karya-karya ini terpajang dengan kejujuran dan upaya-upaya yang meditative. Meski karya telah lahir menjadi sebuah konteks dan mewakili gagasan, ia senantiasa bisa hadir melalui bentuk-bentuk lainnya. Sensasi, impresi yang dilihat oleh pembuatnya rupanya diwakili dengan pengalaman visual yang tersedia oleh alam. Zikir dan meditasi ritmis ini merupakan ziarahnya kembali ke bumi kita ini.

 

————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————————

 

We perceive this exhibition as a pilgrimage practice of Dian Hardiansyah whose giving a remarkable dedication for soil on this earth. The objects he created from a high burnt clay from special layer of soil, polished with glazier, worked using technique of gyre, massage and pour printing. He also mixed some of his works with non-ceramic medium. These works are three dimensions objects and installations, and we deliberately placed them in sync with interior atmosphere of Greenhost Hotel, and also merged them with Dian’s concept of bio-mimicry, a concept of identity (re)formation which he’s been seriously studying since finishing his grade at Department of Crafts, Indonesian Institute of The Arts, Yogyakarta.

The curation of this exhibition is a collaborative effort: Ignatia Nilu and Benda Project, an alternative project of Benda, which alleviates the ideas of young artists in exploring various organic/non-organic materials. An entity of material is not only a material per se, in fine art it can develop into a symbolic material, and in Dian’s hands, this material contains aesthetic aspect and some particular meanings. The construct of this material came from a certain skill, and at the same time also intersecting with the realm of “fine art.” As its result, another ‘attitude’ is born, a works which exists using the language of material and technical aspect; his skill, which contains elements of technology and science, is what we find in his works, and it emphasizes him as a young artist who plays a significant role in the realm of Indonesia’s contemporary fine art.

We hope you can enjoy this pilgrimage.

 

September, 2016
Ignatia Nilu & Benda Project

 

 

 

 

 

 

 

 

Go Back