Rebel Behel – DGTMB Versus Project #17

Rebel Behel – DGTMB Versus Project #17

Sebuah kesempatan yang sangat special bagi kami untuk menyambut sebuah proses kolaborasi dalam program Versus projects. Sebuah platform yang berfokus pada fungsi inkubasi dan katalisator proses artistic serta kekaryaan yang unik dan baru di kota ini. Plaftorm ini telah memberi panggung bagi karya-karya yang tidak mendapat ruang pada ruang-ruang yang dianggap menjadi pilar utama kesenian. Program ini telah menumbuh kembangkan rasa percaya diri individu sekaligus kecenderungan-kecenderungan seni baru sebagai sebuah gerakan yang tidak bisa diabaikan dan memperlihatkannya kepada public, baik public seni maupun public umum secara luas.

Saya pernah berpikir bahwa setelah 17 kali program ini terjadi, yang paling menarik adalah melihat kembali perjalanan demi perjalanan baik program itu sendiri serta seniman juga bagaimana ide-ide itu dipanggungkan dan visual-visual dihadirkan secara nyata dan terus berkembang hingga hari ini. Program ini telah memiiki sejarahnya sendiri dalam proses artistic para seniman yang terlibat.  Tidak hanya seni visual, performance art hingga seni media baru turut dihadirkan disana.

Kali ini merupakan moment yang cukup special karena presentasi kali ini menjadi sekaligus presentasi karya kelompok yang diikuti oleh 35 seniman. Seniman-seniman yang berpartisipasi diantaranya kami undang  melalui keterlibatannya di versus projects yang sebelumnya. Ini merupakan metode kurasi yang cukup unik dan juga organik. Setiap seniman dibekali dengan kerangka kerja yang sama, bidang singular, dengan ukuran/dimensi yang sama yakni diameter 30cm, dan media 2 dimensi. Pengantar kuratorial dilambungkan sebagai ide diatas meja sebagai pemantik gagasan. Rebel behel adalah kredo yang muncul dari Eko nugroho secara spontan paska berpulangnya musisi legendaris David Bowie. Masih dalam kekalutan hysteria media masa membincangkan berpulangnya david bowie, bahasan inipun turut mewarnai pengerucutan konsep pameran ini. Salah satu lagunya Rebel rebel sebuah single legendaris yang dirilisnya di tahun 1974 dari album diamond dogs yang menceritakan bagaimana sebuah persepsi dibangun dari citra fashion seseorang. Fenomena ini adalah persoalan yang faktual dan kronis pada fase tertentu disetiap kehidupan manusia. Bagaimana identitas diri individu hari ini dibentuk atas selera fashionnya. Ini tentunya disertai dengan suatu sistem nilai tertentu yang telah disepakati di medan sosial. Seperti halnya bagaimana kelas dan status sosial dilihat. Behel ; kawat gigi adalah penemuan dunia ortodontis demi merawat pertumbuhan gigi manusia menuju struktur ideal. Namun pada perkembangannya behel merupakan sebuah produk fashion karena pergeseran polar trendy hari ini.

 

 

Tapi dari apa yang saya tangkap dari percakapan dengan mas eko adalah kehadiran dua realitas yang kita temukan melalui dua kredo ini ; Rebel dan behel ini apabila dipertemukan telah memberikan sebuah semangat baru. Dimana generasi muda kita hari ini yang dinilai melalui performa fashionnya — behel itu sendiri sejatinya adalah generasi yang tidak melulu mengukuti arus kutub utama hingga terhanyut dalam pusaran mainstream tanpa kemapuan untuk melawan dengan identitasnya masing-masing.

Itu telah saya temukan pada visual-visual karya yang terpajang diruang pamer ini. Seluruh karya yang hadir memiliki corak, gaya, teknik, konteks, ide dan narasi yang beragam tapi hadir dalam kesatuan semangat yang sama yakni semangat menghadirkan kebaruan.

Beberapa seniman yang terlibat sengaja kami undang dari daerah yang berbeda. Seperti Jakarta dan Bandung. Beberapa seniman seni jalanan seperti rolly love hate love, Alex TMT dan Isrol Medialegal menjadi menarik Karena kehadiran karyanya yang coba diwakilkan diatas bidang zinc/plat seng yang coba direspon secara visual. Isrol yang memindahkan visual melalui dua tahap yakni dengan tagging kemudian ditransfer melalui fotografi diatas diasec. Saya juga menjumpai keunikan instalasi figurative Dwi Galuh Kusuma dengan corak tekstil local.

Diluar itu, secara keseluruhan saya menjumpai beberapa seniman mencoba menyoal narasi-narasi identitas yang dijumpainya sebagai generasi muda hari ini, seperti persoalan ideology yang dimunculkan oleh Yohanes Endy. Beberapa mengedepankan eskpresi estetik mereka. Memandang keseluruhnya diruang pajang ini membawa kami sebagai tuan rumah di ruang ini bahwa peristiwa yang terjadi saat ini akan terus berproses dan akan membawa kumpulan hal-hal ini kepada ruang-ruang yang lebih luas lagi di waktu-waktu kedepan.

 

Yogyakarta, 2016
Ignatia Nilu

 

 

Go Back