The Life and Art Journey of Bob “Sick” Yudita

The Life and Art Journey of Bob “Sick” Yudita

Sejak SD dan SMP Bob”Sick” Yudita telah mengikuti berbagai lomba seni lukis dan memperoleh kejuaraan. Beberapa kali. Se Jogyakarta. Ini membuktikan bahwa sejak kecil ia memang mempunyai bakat menggambar. Dan realis-naturalisnya pasti kuat. Karena penilaian lomba lukis level SD dan SMP itu pastilah realis-naturalis yang kuat.

Saya pernah melihat salah satu sketsa Bob di salah satu bukunya. Saya agak terkejut. Sketsa dua manusia itu digambar dengan goresan yang tegas. Sekali jadi. Tidak patah-patah. Terkesan bahwa goresannya dibuat sangat cepat. Tapi komposisi anatomisnya tepat. Saya hampir tak percaya kalau itu sketsa Bob. Saya membandingkannya, kok mirip sekali dengan sketsa dari pelukis sketsa legendaris. Ipe Makruf.

Mungkin pendapat saya agak kolot. Saya beranggapan meski seorang pelukis itu melukis dengan aliran apapun, tak berbentuk, absurd, kontempurer, tapi sebagai dasar ia harus menguasai realis-naturalis. Kita lihar “studi painting” dari Affandi. Yang melukis ibunya, atau dirinya sendiri yang telanjang. Hitam putih dan ekspresif. Betapa kuatnya anatomisnya. Demikian juga sketsa-sketsa awal Sudjojono, Barli, Hendra Gunawan, dll.

Bob telah memenuhi syarat itu. Anatomis, realis naturalis yang kuat.

Selama belajar di ISI tentu saja terjadi perkembangan jiwa dan otak Bob. Ketika lulus ISI lukisan Bob jadi aneh. Ke kanak-kanakan. Kadang maksudnya tidak jelas. Kadang ada kesan mengerikan, semaunya, dan absurd. Bila meminjam istilah Sudjojono bahwa “seni lukis adalah jiwa ketok”, ya mungkin seperti itulah jiwa Bob. Menggelagak, bergolak. Berontak.

Pada 1998 memang zaman bergolak. Demikian pula diri Bob. Demonstrasi turun ke jalan merupakan agenda hariannya bersama teman-teman seperjuangan.Sosok dirinya di kover depan  Australian Magazine adalah bukti dari besarnya minat terhadap dirinya sebagai wakil dari sebuah jaman yang kisruh. Waktu itu kita membutuhkan tokoh sebagai pahlawan, korban, atau sekedar anomali sampingan. Sosok Bob pas untuk menjadi apa saja

Seni rupa Indonesia tahun 90 an hampir tidak mengenal dirinya. Sibuk sendiri dengan pencrian sebuah identitas, bentuk, bahkan akar senirupa asli bangsa kita yang dari awalnya sudah hybrid.

Dalam kondisi sperti itu, Bob terabaikan. Mungkin dengan berpuluh lelaki lainnya. Namun Bob terus berjalan. Mengikuti berbagai pameran, lomba dan kompetisi senirupa. Berprestasi di bidangnya. Dalam kampus maupun dalam medan senirupa sebenarnya. Menikah. Bercerai. Mabuk. Mengalami siksaan fisik dan medis tak terkira, Kesakitan demi kesakitan.di terus melukis, melukis dimana-mana. Sampai pada suatu masa, tahun 2007. Waktupun berpihak kepadanya. Bob Yudita Agung mulai dikenal. Diperbincangkan. Cukup unik. Dan tersohor. Entah berapa buku yang sudah ditulis tentang Bob.

Banyak orang menduga, karena keanehannya, Bob itu tidak waras. Mengalami gangguan jiwa berat alias psikotik, malah skizofrenia. Tidak saudara-saudara sekalian. Bob sama sekali tidak mengalami gangguan jiwa berat. Marilah saya buktikan. Orang yang mengalami psikotik jenis skizofrenia, itu akan mengalami “deteriorasi”. Keruntuhan fungsi peran dan sosial. Dia tidak bisa menjalankan peran pekerjaannya, peran sebagai bapak, peran sebagai suami, maupun hubungannya dengan teman-temannya. Berarti dia tidak bisa produktif sama sekali. Bob Yudita sebaliknya. Adakah pelukis yang seusia Bob yang sudah pameran tunggal sebanyak dia? Dimana-mana pula. Dalam dan luar negri.

 

 

Bukti kedua. Selama menjadi dokternya Bob, sekitar 10 tahun, belum pernah saya memberikan antipsikotik untuknya. Padahal bila ia skizofrenia, tanpa obat antipsikotik yang diminum rutin, ia sudah menggelandang, bicara kacau, akhirnya digaruk Dinas Sosial dimasukkan RSJ. Selama ini saya hanya memberikan obat-obat anti stres, anti cemas dan antidepresan untuk Bob. Karena saya lihat ia pribadi yang frustasi, penuh konflik dan beban mentalnya cukup berat. Seperti pelukis-pelukis yang lain. Konflik batin dan beban ini berasal dari diri Bob sendiri. karena iu ia sering tidak bisa fokus dalam berpikir. Meski saya telah mengajarinya, mengatsi itu dengan meditasi harian.

Bob”Sick”Yudita hanya mempunyai ciri, tipe, atau warna kepribadian yang disebut skizotipal. Ada sebelas jenis tipe kepribadian dan masing-masing orang mempunyai satu. Bob adlah skizotipal. Seperti kebanyakan seniman alin yang aneh, eksntrik, tapi tersohor. Seperti Chairil, Sutarji Kalsum Bachri, atau Remi Silado di dunia sastra. Atau pelukis termashur dari Bandung itu. Ciri kepribadian skizotipal adalah aneh dan eksentrik dalam berpikir, bersikap, berkomunikasi dan berpenampilan. Karena itulah Bob mentatto seluruh tubuhnya. Sehingga terkenal sebagai “Presiden of Tatto”.

Orang dengan tipe skizotipal, mungkin karena sikap dan penampilangnya yang eksentrik, menjadi bahan olok-olok dan ejekan teman-temanya, sering menglami stres dan frustasi. Mungin juga karena ide dan khayalannya terbentur dan gagal, sering frustasi. Tapi tak apa. Seperti kata Rendra, bahwa untuk sebuah karya seni yang monumental, dibutuhkan stres dan kefrustasian yang monumental pula. Dalam kondisi demikian ia bisa memunculkan waham (delusi) dan halusinasi. Karena itu Bob mengaku penah bertemu tokoh-tokoh penting di loteng rumahnya. Dan waktu umroh di makam Nabi dia ketemu dengan Syeh Maulana siapa gitu yang orang lain tak melihatnya. Tapi waham dan halusinasi ini hanya sementara. Akan hilang sendiri dalam 2-3minggu dan tidak membahayakan.

 

 

Pada pengalaman saya, justru saat seorang pelukis itu berwaham dan halusinasi, bila ia melukis, lukisannya jadi sangat ajaib, dan diburu para kolektor.

Lukisan Bob yang liar, kekanak-kanakan tapi dengan goresan tegas kuat ekspresif, membuat saya memandingkan dengan lukisan Jean Michel Basquiat. Pelukis dari New York, Amerika Serikat. Tapi lukisan lebih mendekonstruksi bentuk, baik manusia maupun binatang. Dan selalu berkesan mengerikan. Sangar. Lukisan Bob lebih lembut. Halus. Meski kadang vulgar dan nakal. Orang bilang aliran Basquiat itu ekspresionis dan neo-primitif. Lalu lukisan Bob ini aliran apa? Ekspresionis, bukan. Impresionis, apalagi bukan. Surealis seperti Salvador Dalli, ah jelas bukan. Kubisme seperti Pikaso,ah jauh dari itu. Atau seperti Modligiani, jelas tidak. Akhirnya saya pastikan. Ya aliran Bob sendiri. Bob-isme begitulah.

Tapi lukisan Bob yang kadang padat, ngrawit, dengan warna-warna matang, menjadi nampak dekoratif. Meski bukan dekoratifnya Pak Widayat. Karena itulah lukisan Bob yang seperti ini laku keras. Karena mengenakkan mata yang memandang. Meski yang memandang itu tak punya pengetahuan tentang senirupa sama sekali.

Keliaran Bob dalam melukis, menunjukkan jiwanya yang selalu gelisah. Resah. Dan selalu mencari. Mencari hidupnya sendiri. Mencari bagaimana ia harus melukis. Bahkan mencari siapakah dia sebenarnya. Petualangan dan perjalanan dalam mencari. Karena itulah pamerannya kali ini diberitema “The Journey”. Individu yang skizotipal sering menjadi liar tak terkendalikan. Tapi pada Bob ada pengendalinya, penekan emosinya yang meledak-ledak. Yaitu istri dan anak-anaknya. Untuk ini Bob sangat beruntung. Istrinya, mbak Widi, yang bisa mengendalikanya. Memahaminya. Mendampinginya. Mencintainya, Dan memujanya. Bagi mbak Widi, lukisan Bob jauh lebih bagus daripada lukisan Jean Michel Basquiat. Saya katakan berkali-kali. Itulah hartamu paling berharga Bob!

Pada individu skizotipal, bila di psikotest, akan nampak adanya agresivitas terpendam. Agresivitas yang destruktif. Tapi Bob ikut klub Air Shoft Gun. Bahkaan Perbakin. Ia rajin dan tekun latihan menembak. Ini bagus. Untuk penyaluran agresivitasnya. Dan ini penting untuk keseimbangan jiwanya.

Saya senang dan bahagia anda semua bisa hadir dalam pembukaan pameran Bob dan istrinya ini. Berarti suatu penghormatan bagi susah payah Bob dan istrinya. Akhirnya saya hanya bisa berpesan : “Sukses Bob, Maju Terus !!!”

 

Inu Wicaksana
www.inuwicaksana.com 
inuwicaksana@gmail.com

 

 

 

Go Back