Writing From the World

Writing From the World

n : writ·ing  \ ˈrī-tiŋ  \ ˈfrəm , ˈfräm also fəm \ t͟hə  \ ˈwər(-ə)ld \

 

Diruang ini, tengah terpajang beberapa karya dari lima peserta pameran yang adalah perupa, penyair, curator, pekarya dan actor. Kelimanya kami undang untuk memajang karyanya dalam koridor “menuliskan gagasan kepada dunia”. Tema ini tentu saja tema yang sangat luas dan public bertanya-tanya, apakah yang diharapkan oleh penyelenggara dengan menggarap pameran ini.

Disisi lain, kenyataan diruang pamer ini menunjukkan beberapa artefak dan catatan yang mengandung muatan gagasan yang berbeda-beda. Dari kenyataan keragaman gagasan inilah juga yang sekaligus menjadi pemersatu kerangka perspektif dari keseluruhan karya yang hadir disini, yakni tentang ikhwal berbahasa. Kelima partisipan yang hadir ini menyajikan cara pandang dan kerja-kerja yang dilakukannya dalam rangka meneliti relasi dan kemampuan bahasa dalam mengkonstruksi sebuah jarak pandang, penglihatan, pemikiran dan kemungkinan dari bentuk-bentuknya.

Yang kedua, terdapat alasan yang lain dari penyelenggaraan pameran ini. Disaat ini kota Jogja tengah merayakan perayaan Biennale Equatornya yang ke-empat. Sebagai ruang alternatif yang berada di kota ini, kami merasa berbahagia menjadi bagian dari peta kegiatan ini. Berangkat dari gagasan untuk merespon apa yang dibicarakan oleh Biennale Equator 11 dengan tema “Age of Hope” yang membagi dan memetakan pokok bahasan melalui tujuh repetoar yang salah satunya berbicara pada penyangkalan atas kenyataan. Kembali pada fragmen repetoar yang kami garis bawahi diatas “penyangkalan pada kenyataan” sendiri yang dibingkai pada arah pemujaan pada ilusi kehidupan ideal, penolakan atas perubahan yang menyakitkan dan wabah ketidakpedulian pada perubahan dan dampak-dampak sosialnya. Potongan yang menarik bagi kami, dimana penyangkalan sebagai sebuah proses adalah fase yang tidak mungkin absen dari proses kesadaran dan berlogika kita. Penyangkalan sebagai sebuah frase barangkali telah menawarkan sebuah tendensi yang kontradiktif, tetapi lepas dari itu semua kita dapat melihat penyangkalan sebagai sebuah bentuk dorongan awal dari kerja nalar kita.

 

 

Wrating From The Worlds — Sebagai sebuah tajuk yang kami temukan dari catatan Antologi Penyair kontemporer Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri ; Kami telah terinspirasi dari karya sastranya yang memberi kebebahasan pada Bahasa untuk terbebas dari fungsinya sebagai konversi nilai sosial dan ideologis. Bahasa sebagai sebuah cara komunikasi ini telah menawarkan lapisan pikiran, makna, symbol, tanda hingga fungsi-fungsi. Bahasa dirangkai demi memperluas perspektif hingga cakrawala berpikir, tetapi disatu sisi Bahasa sendiri telah membingkai makna dengan definisi yang baku dan menciptakan keterbatasannya sendiri. Bahasa membentuk sebuah konflik dengan sintesisnya sendiri.

Kembali berbicara tentang Age of Hope itu sendiri ; Apa yang ditawarkan oleh Wrating from The World sendiri adalah upaya untuk menuliskan kembali sintesis dari Bahasa yang kita miliki dalam pemikiran ini dapat lahir melalui transformasi yang bebas dan baru.

Melalui latar dan dorongan fenomena yang dirangkum dalam paparan diatas, maka kami mencoba untuk menginisiasi sebuah eksposisi dari bentuk-bentuk berbahasa yang transformative untuk dihadirkan oleh para seniman dalam bentuk-bentuk syair yang kokret dan interaktif. Sejauh mana Bahasa masih mampu membawa kita mengenali cakrawala pemikiran yang menolong kita untuk memasuki zaman penuh harapan? Apakah Bahasa akan membawa kita pada bentuk-bentuk imaji yang terbebas akan struktur dan eksistensi makna hingga kita dapat mengembalikan pemahaman kita akan makna itu sendiri? Dengan penyangkalan pada kenyataan yang telah menjadi mapan dalam ilmu pengetahuan ini, semoga kita masih terbebas untuk melihat kenyataan baru dari hari ini dan hari esok. Selamat menikmati pameran!

 

Yogyakarta, Oktober 2017
Ignatia Nilu
Associates Curator
Green Art Space — Greenhost Boutique Hotel

 

Go Back